ES 2018: Open Call for Papers

From Equator Symposium
Jump to: navigation, search
SK2018 OPEN CALL.jpg

Yayasan Biennale Yogyakarta mengundang para akademisi muda dari berbagai latar belakang disiplin ilmu (sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial, kajian seni dan budaya, dll.) untuk mengajukan usulan naskah esai yang akan dipresentasikan di dalam salah satu forum Simposium Khatulistiwa 2018 (SK 2018).

BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI?

Seni bermasyarakat dalam mengarungi tantangan kehidupan hari ini

Kedigdayaan Samudra Pasifik sebenarnya tak terhindarkan. Bagaimanapun juga, pusar bumi berada di sana. Oleh karena itulah sampah-sampah yang telah kita buang ke laut berakhir di sana. Samudra Pasifik adalah laut terbesar dan terdalam di dunia. Luasnya sepertiga planet bumi dan daratan di kawasan ini hanyalah seluas 10%. Negara-negara di Samudra Pasifik kebanyakan adalah negara-pulau (seperti Fiji, Kiribati, Nauru, Marshall, Palau, Samoa, Solomon, Tonga, Tuvalu, Vanuatu) atau negara kepulauan (seperti Indonesia, Filipina, Selandia Baru, dan Jepang). Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dan hanya 30% dari wilayahnya adalah daratan! Baik di nusantara maupun di Kawasan Pasifik, kehidupan manusia dikelilingi air. Laut adalah penghubung manusia di kawasan ini serta beragam kekayaan alam dan budayanya. Gunung berapi, baik yang tampak maupun yang berada di bawah laut, adalah agen perubahan di kawasan ini. Apakah kita telah mengenali kekayaan kita sendiri di kawasan ini? Apa yang telah kita perbuat atas kekayaan ini? Apakah kita mengeksploitasinya? Sudahkah kita menjadi berdaya bersama dengannya?

Istilah BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri) diciptakan Sukarno dalam konteks pembangunan ekonomi rakyat Indonesia. Sukarno ingin menjadikan ‘kekuatan sendiri’, baik sumber daya alam maupun manusia, sebagai landasan utama pembangunan ekonomi. Artinya, pemerintah dan rakyat mesti bersama-sama memaksimalkan apa yang menjadi milik negara dengan beragam ketekunan, penemuan, dan kerja sama. Tujuannya adalah kesejahteraan masyarakat dan ketidak-tergantungan akan ‘si asing’. Si asing ini tidak hanya merujuk pada manusianya, tetapi juga kepandaian, modal, serta kepentingannya. Apakah masyarakat telah berdaya? Telah mandiri? Apakah keberdayaan dan kemandirian berarti kita tidak butuh satu sama lain? Apakah kita telah menjadi setara? Bagaimanakah kesetaraan dimaknai dan dijalankan dalam kehidupan demokrasi hari ini? Kami menggunakan lagi istilah BERDIKARI untuk membongkar perihal kemandirian dan ketergantungan dalam kehidupan hari ini, beserta segala tantangannya. Kami percaya bahwa kehidupan bermasyarakat di sepanjang garis khatulistiwa, dengan ragam konteks sosial-politiknya, memiliki kehendak atas kemandirian.

SK 2018 ingin mengungkap bagaimana ragam kehendak atas kemandirian ini dijalani, disiasati, dan terus dinegosiasikan seiring dengan tantangan kehidupan hari ini. Baik sehubungan dengan perekonomian global, perubahan iklim dan segala konsekuensinya terhadap sumber daya alam, perkembangan moda hubungan timbal-balik antar manusia, peranan teknologi dalam kehidupan pribadi dan publik, dlsb. Kami berharap bahwa kajian dan paparan dari kaum cendekia/akademisi dapat menjadi artikulasi bagi dinamika sosial dan keberadaan ruang-ruang hidup ini, sekaligus membuka peluang bagi kita semua untuk mewacanakannya secara terbuka dan kritis.

Topik Utama

  • Budaya kelautan dan bahari
  • Ekonomi kemasyarakatan
  • Perkembangan wilayah (desa, kota, kawasan)
  • Perpindahan manusia dan nilai-nilai yang dibawanya
  • Tegangan, krisis, negosiasi, dan toleransi antar orang dan orang banyak
  • Keberlangsungan sumber daya (manusia, alam, pengetahuan)
  • Etika, estetika, dan politik

Kata-kata Kunci Menuju SK 2018

  • Budaya kelautan dan perairan di nusantara sehubungan dengan “Maritim-Depok”, Kebijakan Kelautan oleh Presiden Jokowi yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Apa visi dan strategi Indonesia dalam Kawasan Pasifik yang didominasi oleh laut?
  • Pada 2017, salah satu penemuan ilmiah terbesar adalah sebuah benua baru di dasar Samudera Pasifik. Tepatnya di dasar lautan Selandia Baru sampai dengan Kaledonia Baru. Benua “baru” ini konon terkubur di bawah laut semenjak 75 juta tahun lalu. Luas area benua Zealandia ini 5 juta kilometer persegi, dan 94%-nya berada di bawah laut. Arah perjalanan yang akan ditempuh Biennale Jogja XV 2019 – Biennale Khatulistiwa #5 adalah Kawasan Pasifik. Untuk itu, SK 2018 akan mulai mengungkap ragam kearifan budaya di kawasan ini.
  • Implikasi kebijakan-kebijakan politik kerja sama antar negara terkini. Antara lain: BREXIT; Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta mitra dagangnya (Cina, India, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea); pembangunan One Belt One Road yang mengikuti Jalur Sutra (Cina, Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Barat, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur); dan bergantinya suara perwakilan Kawasan Pasifik di PBB (dari Pasific Islands Forum (PIF) menjadi Pasific Small Islands Developing States (PSID) yang mengecualikan Australia dan Selandia Baru).
  • Pergeseran etika bermasyarakat sehubungan dengan perkembangan teknologi media; kapitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah; politisasi ras, etnik, agama, dan gender; dlsb.
  • Keberpihakan demokrasi pada kemanusiaan seturut dengan senarai persoalan serba giris yang mengisi alaf baru ini. Parlemen dan pemilu, unsur demokrasi yang dipuja sebagai bentuk perwujudan kehendak rakyat, kini terbukti bisa terpiuh dan terseleweng arahnya, membokongi demokrasi itu sendiri. Lihat saja beragam kehebohan gara-gara Donald Trump menjadi Presiden di A.S.; Erdogan di Turki yang memanfaatkan kudeta dadakan sebagai alasan untuk memberantas lawan politiknya, baik yang benar-benar musuh ataupun yang dianggap pesaing; Duterte di Manila yang membiarkan pembunuhan antar warga dengan alasan pemberantasan narkoba; kepemimpinan militer yang tak kunjung usai di Thailand; pemberantasan etnis Rohingya di Myanmar; pelarian etnis Hazara dari Afganistan; dlsb.

Syarat dan Cara Pendaftaran

  • Minimal sedang menempuh pendidikan S2 atau sudah lulus, dari bidang sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial, kajian seni dan budaya, dll.
  • Unduh dan isi formulir Panggilan Terbuka SK 2018 dari sini, lihat contoh cara pengisian di sini
  • Kirimkan formulir yang telah diisi beserta usulan esai Anda (maks. 500 kata) dan (min. 2) esai Anda yang telah diterbitkan ke reach(at)equatorsymposium(dot)org
  • Batas waktu penerimaan usulan esai adalah: 31 Maret 2018
  • Pengumuman pilihan panggilan terbuka adalah: 10 April 2018
  • Peserta terpilih mengikuti Lokakarya Khatulistiwa: 1-4 Mei 2018 di Yogyakarta

Informasi Lebih Lanjut

Simposium Khatulistiwa // Yayasan Biennale Yogyakarta Biennale
c/o. Jl. Sriwedani 1, Yogyakarta, Indonesia
[telpon] +62 274 587712
[surel] reach@equatorsymposium.org
[situs] www.equatorsymposium.org
[kontak] Ratna Mufida +62817277679